Saat ini kata Hijab sudah mulai menjadi “nilai jual” bagi sebagian kita. Tapi bagaimanakah esensi Hijab itu sebenarnya???
Ketika dicoba browsing dengan keyword “Hijab”, hasil yang banyak kita jumpai saat ini sebagian besar adalah seputar Hijab sebagai fashion, terlebih lagi Hijab dengan berbagai tutorial berhijab, Hijab style katanya.
Mulai
dari jenis-jenis hijab yang dipaparkan, sampai kepada foto-foto wanita
berkerudung menggunakan berbagai jenis warna dari yang Syar’i sampai
yang tidak Syar’i, beragam style berhijab yang dikemukakan oleh search engine tersebut.
Sebenarnya,
hijab merupakan kewajiban bagi setiap wanita yang beragama Islam. Hal
itu merupakan Perintah Allah SWT yang dipaparkan langsung dalam QS.
Al-Ahzab : 59 dan QS. An-Nuur : 31,
“Hai Nabi,katakanlah
kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum
mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu
mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59)
Mari menelaah makna dari
Hijab itu sendiri, hijab mempunyai makna benda yang menutupi sesuatu.
Hijab yang dimaksud adalah kerudung sebagai penutup kepala bukan
pembungkus kepala.
Sebagaimana syarat hijab yang Allah tetapkan;
“Katakanlah
kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali
yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kerudung ke dadanya,…” (QS. An-Nur : 31)
Dari ayat tersebut,
disebutkan bahwa syarat hijab yang benar atau syar’i adalah menutupi
bagian dada. Syarat lain adalah tidak transparan karena arti hijab
sendiri adalah penutup. Kalau masih transparan dan tidak menutupi bagi
dada, hijab itu belum berfungsi sebagaimana mestinya.
Lihat kembali contoh hasil browsing
mengenai hijab. Sangat sedikit website yang membahas esensi hijab,
seperti dalil-dalil mengenai kewajiban berhijab, hijab yang syar’i itu
seperti apa, ataupun tulisan yang mengkritisi hijab jaman ini. Ketika
kita melihat di tempat umum atau jalan-jalan, para wanita berhijab
dengan style apapun dapat ditemui. Sayangnya, wanita dengan hijab yang
benar-benar hijab tidaklah banyak. Seakan-akan hal mendasar dari hijab
itu sendiri justru dilupakan oleh masyarakat luas. Kemungkinan lain
adalah banyak orang yang belum tahu mengenai hijab syar’i. Karena alasan
itulah, hijab syar’i belum menjadi trend di Indonesia.
Memang pengalaman browsing
di internet dan pengamatan sehari-hari tidak dapat menjadi indikator
yang pas untuk mengukur tingkat kepedulian masyarakat tentang esensi
berhijab, namun hal itu dapat menjadi gambaran secara umum. Setidaknya,
kita menjadi tahu bahwa hijab syar’i belum menjadi sesuatu yang masuk
dalam daftar hijab fashion di Indonesia. Padahal dunia akan indah jika hijab syar’i menjadi fashion
di negeri ini, terlebih lagi jika para wanita paham akan esensi dan
menyadari pentingnya memilih hijab syar’i dari pada yang bukan.
Faktanya
saat ini adalah kebanyakan hijab yang populer di Indonesia itu tidak
syar’i. Walaupun begitu, bukan berarti hijab-hijab tersebut itu
dimusnahkan sama sekali hingga hanya ada hijab syar’i yang cenderung
kurang populer. Jika itu terjadi, tidak ada orang yang tertarik memakai
hijab sama sekali. Ada satu keuntungan ketika hijab menjadi suatu yang
populer walaupun itu tidak syar’i. Dengan populernya hijab, diharapkan
banyak orang yang tahu dan tertarik menggunakan hijab. Siapa tahu, hijab
fashion itu memotivasi muslimah yang belum berhijab untuk
menggunakannya. Mungkin pada awalnya hanya sebatas tertarik untuk
memakai tanpa tahu esensi memakainya, tapi itu tidak masalah.
Dengan
memakai hijab walau belum syar’i, muslimah yang baru memakai hijab
semakin lama akan merasa nyaman dan berpikir bahwa hijab adalah suatu
pelindung baginya. Itu terjadi jika dia masih menerima hidayah Allah.
Setelah memakai hijab juga, diharapkan mereka akan menyadari apa
esensinya, termasuk kewajiban bagi muslimah untuk berhijab dan hijab
yang benar itu seperti apa. Ketika sudah paham, dia akan mengubah style
berhijab dari yang belum syar’i menjadi hijab yang syar’i. Proses itu
tidak lepas dari peran muslimah dengan hijab syar’i dalam memahamkan
mereka dan tentu saja hidayah dari Allah. Butuh proses yang bertahap
pula karena perubahan menjadi lebih baik tidak seperti membalikkan
telapak tangan.
Fashion dapat berkontribusi bagi hijab
syar’i menuju popularitasnya, namun usaha untuk mencapai itu tidak
mudah. Semoga ada pelopor desainer hijab syar’i yg mempopulerkannya.
Ketika semakin banyak desainer hijab syar’i, hijab yang benar pun jadi
populer. Dengan populernya hijab syar’i, semakin banyak muslimah yang
ingin berhijab dengan syar’i. Itu menjadi bukti bahwa hijab syar’i tidak
selalu menjadi lawan dari fashion karena hijab syar’i sendiri dapat menjadi fashion. Dunia akan indah ketika muslimah di seluruh dunia dapat mengikuti fashion tanpa harus mengabaikan ketentuan-ketentuan syar’i. (Asy-syifa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar