Rabu, 18 Juni 2014

Apa..

He is My Father..
kalau saya memanggilnya "apa"..
panggilan ayah di Minang..
berasal dari kata "papa"

Beliau adalah Apa yang sungguh luar biasa..
Kesabaran.. Keteguhan.. Kegigihan nya yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata..
kami berempat sangat menyayangi beliau..
meski pendidikan Apa hanya sampai SD..
tapi Kecerdasan beliau melebihi seorang Presiden!
Beliau sangat mampu membuat sesuatu yang baru..
Membuat Penemuan baru ketika problem kerumahtanggan datang..

Kami bersaudara sering tidak akur..
Tak Jarang kami membuat beliau Menangis..
tapi sungguh..Rasa ditampar oleh keadaan..
Tanpa benci, tanpa kesal, tanpa Marah..
Beliau sapa kami selalu..

Apa.. Semoga Allah Senantiasa melindungi-Mu..
Semoga Jerih Payahmu menjadi sebuah kunci Syurga Kelak di Akhir masa..
 dan juga kami, maafkan kami anak-anakmu..
sering kali kam lukai hatimu..
tapi dalam jiwa kami yang terdalam..
rasa Sayang, Rasa Kasih sungguh selalu mendo'akan untuk Kebaikan mu..

Salam Sayang apa..
Salam Sayang dan Cinta dari anakmu.. 
:* :* :*
---------------------------------------------------------------------

Allah Maha Adil

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Dalam ayat-ayat sebelumnya telah disinggung pernyataan mengenai siksaan dan balasan Ilahi di dunia ini dengan cara diturunkannya siksaan terhadap para pendosa secara tiba-tiba. Sementara dalam ayat ini disebutkan mengenai siksa bagi orang-orang yang jahat dan pendosa pada Hari Kiamat, sebagaimana mereka telah melakukan kejahatan tersebut terhadap sesamanya. Mereka sendiri tidak mau berhenti dari berbuat kejahatan, sehingga mereka akan mendapatkan azab dan siksaan yang sangat pedih untuk selamanya. Dasar pemberian siksaan Ilahi itu tergantungkan pada amal perbuatan manusia sewaktu di dunia. Begitu pula mereka dalam menghadapi kejahatan yang telah mengkristal senantiasa akan merasa tersiksa.

Dari ayat tersebut terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Dalam kebudayaan Islam, kezaliman tidak hanya terhadap orang-orang lain, akan tetapi yang namanya dosa bukan terbatas pada kezaliman. Karena berbuat zalim terhadap diri sendiri juga zalim terhadap para nabi yang diutus untuk kepada umat manusia.
2. Siksa dan balasan Allah adil dan setimpal dengan amal perbuatan manusia, dan sekali-kali bukan melebihi dari amal perbuatannya.

(tafsirQuran)